iklan-merokok-dapat-menyebabkan-kanker-kemiskinan

Apakah Merokok itu Haram Hukumnya?

Suatu hari ada salah seorang guru yang sedang berdiskusi dengan seorang syeikh. Seperti kita ketahui bahwa seorang syeikh tentu ilmu agamanya lebih tinggi di bandingkan seorang guru biasa. Guru ini kebetulan seorang perokok. Lalu ia menyampaikan pendapat kepada syeikh, bahwa menurutnya merokok itu tidak haram.

Sang guru beralasan demikian karna ia belum ada menemukan satu ayat pun di dalam Al-Quran yang menyatakan “… diharamkan atas kalian rokok”. Belum ada dalilnya.

Menanggapi pernyataan itu syeikh pun angkat bicara. Dialog antara guru dan ulama pun dimulai. Dengan sikap yang bijaksana, syeikh mengajak sang guru tersebut untuk berpikir. Tanpa ada kesan menasehati sama sekali. Pun syeikh tidak membuat pernyataan secara langsung. Ia hanya ingin sang guru membuat kesimpulan sendiri tentang bagaimana hukum merokok menurut pandangan Islam sebenarnya.

Dialog Guru dan Ulama : Merokok itu Haram?

Seperti apa dialog lengkap antara guru dan ulama syeikh ini bisa kalian baca lewat postingan saya di facebook berikut :

(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = “//connect.facebook.net/en_GB/all.js#xfbml=1”; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); }(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));

.fb-embed {width:100%;text-align:center;}.fb-post {width:500px}

Tak disangka-sangka postingan tersebut mampu mengundang beberapa tanggapan dari teman-teman saya yang ada di facebook. Walaupun sebenarnya dialog ini bukan asli karangan saya pribadi. Alasan kenapa waktu itu saya kepikiran untuk share status ini adalah, kebetulan ayah saya sedang sakit. Dan ayah saya adalah seorang perokok.

Saya sudah cukup sering mencoba untuk mengingatkan ayah saya untuk tidak merokok. Tapi susahnya minta ampun. Para perokok banyak beralasan candu rokok sangat susah untuk dilawan. Cuman lagi saya rasa bukan itu penyebab utama orang-orang susah berhenti merokok. Semua hanya karna niat saja. Kalau gak niat iyaa susah. Mau dinasehati aja susah. Apalagi mau berhenti udah pasti susah.

Seperti yang ada pada dialog tersebut, syeikh bertanya pada guru “Kalau kau lihat anakmu sedang menghisap rokok, apakah kamu ridha?”

Dan guru menjawab “Tidak… karena itu tidak baik”.

Teringatnya, saya dulu juga pernah berdialog dengan ayah saya yang isinya hampir serupa. Dengan agak kesal saya bertanya pada ayah saya, “Dulu sewaktu eder mau merokok, kenapa ayah ngelarang?”.

Saya rasa sangat gak masuk akal. Seorang ayah gak pengen ngelihat anaknya merokok sedang dirinya sendiri sangat asyik dan santainya merokok di hadapan keluarganya sendiri. Merokok seenak-enaknya sendiri di depan istiri dan anak-anaknya. Sangat egois kan? Apa kalian gak kesal? -__-“

Sekarang, setelah ayah saya kemarin opname selama 5 (lima) hari di Rumah Sakit barulah ia benar-benar pasrah untuk disuruh berhenti merokok. Waktu itu saya hanya cuek. Bukan hak saya untuk menasehati orangtua. Paling mamak saya yang bilangin untuk gak merokok lagi. Dan ditambah lagi dari saudara dan kawan-kawan kerjanya ikut menasehati hal yang sama.

*****

Kembali ke status saya yang di facebook tadi. Ternyata ada yang berkomentar agak kurang setuju dengan dialog antara guru dan ulama mengenai haramnya hukum merokok ini. Iyaah memang sebenarnya belum ada dalil yang kuat yang menyatakan bahwa merokok itu haram hukumnya.

Pada dialog terakhir memang seolah-olah tokoh syeikh menyatakan bahwa setiap yang buruk itu haram. Sehingga mungkin dari sini lah muncul komentar yang agak kontra itu. Menurut saya pribadi inti dari percakapan syeikh ini, ia hanya ingin membuat sang guru sadar bahwa merokok itu buruk bagi diri manusia. Dan pada dasarnya Islam selalu melarang umatnya untuk melakukan hal yang buruk.

Kalau misalkan intinya syeikh ingin menyampaikan bahwa merokok itu haram, pasti ia akan langsung memberikan dalil yang tepat tentang hukum tersebut. Tapi disini kan tidak. Hanya seolah-olah perumpamaan saja. Apalah bedanya hal yang buruk dengan yang haram? Kan sama-sama harus kita jauhi. Jadi, kenapa mesti ada hukum haram dulu baru kita mau menjauhi hal yang buruk? Makanya mending ditinggalkan, iyaa kan?

merokok-itu-haram-hukumnya

Terlepas dari itu, pesan lain yang paling penting dari dialog ini adalah bahwa kalau lah memang sahabat pembaca seorang perokok dan sahabat sudah berumah tangga. Apalagi sudah punya istri dan anak. Kenapa lah masih betah merokok di hadapan keluarga sendiri?

Bukankah kita tahu bahwa merokok itu banyak buruknya untuk kesehatan manusia?
Apakah sahabat gak sayang sama kesehatan istri dan anak sendiri?

Setidaknya berhentilah merokok demi mereka. Karna saya yakin jika diminta berhenti merokok demi menjaga kesehatan diri sendiri, pasti kalian merasa anggap remeh. Seperti misal ada wacana MEROKOK MEMBUNUHMU, toh saya masih bisa hidup walaupun udah merokok berpuluh-puluh tahun. Jadi memang susah kan kalau udah merasa diri serasa kebal akan bahaya rokok.

Tapi apakah semua orang sama hebatnya dengan diri kalian?
Jadi, coba pikirkan orang lain!! Jangan cuman maunya nurutin kemauan diri sendiri.

Saya yakin sahabat pembaca sekalian adalah orang-orang yang masih perduli dengan masa depan keluarga. Dan itu adalah salah satu tanda bahwa kalian masih bisa hidup tanpa ada rokok.

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *