pendidikan-nilai-ilmu

Milih Mana Dapat Nilai Bagus Atau Ilmu?

milih-mana-dapat-nilai-bagus-atau-ilmu

Kita tahu bahwa menuntut ilmu itu adalah kewajiban. Karna kita memang butuh ilmu. Supaya hidup kita menjadi terasa lebih mudah. Tanpa adanya ilmu kita jadinya gak tahu bagaimana cara membuat ini, bagaimana cara supaya bisa begitu dan lain-lain. Intinya dengan ilmu harapannya kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Pun juga mudah-mudahan bisa memberikan manfaat untuk orang lain.

Atas dasar itu lah muncul budaya sekolahan. Ada yang formal dan ada juga non formal. Kemudian pemerintah pun membuat suatu aturan wajib belajar bagi orang-orang yang mau sekolah. Supaya lebih diakui kemampuannya seseorang minimal harus menyelesaikan pendidikan selama 9 tahun misalnya. Nanti setelah selesai sebagai buktinya dikasih lah ijazah. Dan itulah yang dipakai untuk mencari pekerjaan.

Orientasi Belajar di Sekolah

Anehnya banyak sekarang yang orientasinya malah berubah. Tadinya kan kita pengen supaya bisa dapetin ilmu, lah sekarang ada juga yang niatnya hanya cuman pengen dapetin ijazah atau gelar sarjana. Yang mana pada ijazah tersebut tercantum lah seberapa bagus nilai hasil belajar kita. Dan jika nilainya bagus kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan jadi lebih mudah. Kesimpulannya disini, nasib Anda akan sangat bergantug pada nilai.

Karna itu siswa-siswa yang sedang belajar di pendidikan pun semakin dipacu agar bisa mendapatkan nilai bagus. Sampai tertanam lah semacam mindset (entah secara tidak langsung mungkin), bahwa kalau kita rajin belajar, rajin ngerjain tugas maka kita bisa dapatin nilai yang bagus. Kalau dapat nilai bagus maka akhirnya kita bisa dapat pekerjaan bagus. Kalau dapat pekerjaan bagus maka nantinya kita bisa dapat penghasilan yang bagus pula. Begitu kan?

Apakah Anda sependapat dengan pola yang seperti ini?

Jika ditelusuri memang sebenarnya tujuan daripada pemberian nilai di sekolah itu bagus. Artinya nilai disini digunakan untuk sebagai indikator sudah sejauh mana siswa menguasai pelajaran. Yang bisa dapat nilai bagus berarti dia sudah termasuk siswa yang memenuhi kriteria standard atau sudah berhasil memahami materi yang dipelajari.

Cuman herannya terkadang ada juga dijumpai proses penilaian yang gak sesuai dengan tujuan tersebut. Alih-alih dipakai untuk mengukur kemampuan siswa, malah dipakai sebagai formalitas belaka. Bisa terkadang karna faktor kebetulan, bisa karna faktor mood penilai, bisa karna faktor yang subjektif, atau bisa karna si A rajin nanya-nanya di kelas. Atau apalah yang lain.

Intinya bisa saja nilai yang didapat gak 100% akurat sesuai dengan kemampuan siswanya. Tapi nilai tetap selalu jadi patokan kelulusan.
Walaupun pada dasarnya nilai itu bersifat relatif. Bisa dapat juara 1 di kelas D belum tentu juara 1 juga di kelas A.

Jadinya terkadang siswa pun ikut-ikutan menghalalkan segala cara agar supaya dirinya bisa dapatin nilai yang bagus tersebut. Disini udah gak terpikir lagi apakah ilmu yang didapat sesuai dengan nilainya atau tidak. Yang penting nilai A di kertas ada, itu aja pun udah cukup lah. Bisa dapat nilai bagus ya udah Alhamdulillah. Kalau jelek nilanya, marah, kesel dan iri. Minta perbaikan disuruh bayar pun gak papah yang penting nilainya bisa jadi bagus. Ilmunya gak dipikirin? -___-

belajar-mencari-nilai-100-A

Belajar Untuk Sekedar Mencari Nilai

Harusnya kalau memang yang dikejar itu adalah ilmu, saat dapat nilai yang jelek disitu kita harusnya mikir. Apa nih yang salah dengan cara belajar saya? Gimana supaya saya bisa memahami materi yang satu ini yaa?

Cuman lagi pendidikan pun gak mendukung pula. Kalau siswa dapat nilai jelek ya udah. Minggu depan pokoknya harus udah lanjut ke materi yang berikutnya. Terkahir iyaa siswa yang bodoh tetap ketinggalan, siswa yang pintar makin pintar. Alasannya kan mereka bisa belajar sendiri di rumah. Gimana mau belajar, lah besok-besok udah dihadapin dengan tugas-tugas yang baru lagi?

Pun juga sama dengan yang pintar, sering malah hanya karna terlalu sibuk ngejar-ngejar target nilai A, niat di awal untuk menuntut ilmu itu gak sepenuhnya tercapai. Oke lah saya yakin ada yang benar-benar bisa sesuai, tapi paling iyaa 3% lah dari total siswa yang ada dalam satu kelas. Selebihnya saya yakin gak semua bisa dapatin ilmu yang diajarkan di kelas dengan baik. Sekalipun di dikatakan pintar oleh gurunya.

Karna yang pintar ini terkadang suka merasa sok hebat dengan nilainya. Jadi dia suka lupa untuk praktek. Tahunya cuman sebatas teori di atas kertas. Entah pun dia dapat A hanya dibandingkan dengan teman sekelasnya doang kan? Di lapangan bisa tidak dapat nilai A? Belum tentu. Kalau di kehidupan sehari-hari, nilai A itu bukan didapat hanya karna kita berhasil jawab soal. Tapi kita bisa dapat A kalau kita bisa menyelesaikan persoalan dengan solusi yang tepat.

Artinya apa? Saat kita memang sudah memahami ilmunya, otomatis kita juga harus sudah bisa menerapkannya langsung pada kehidupan sehari-hari. Itu baru namanya kita sudah benar-benar belajar. Kalau cuman dapat nilai sih gak jamin. Bisa saja rupanya kita cuman belajar echek-echek di kelas. Tiba di lapangan kita bingung.

Anda Yakin Sudah Beneran Belajar?

Sebagai contoh, saat misal Anda pengen membuat kue. Karna Anda gak tahu jadinya kan Anda harus belajar dulu. Iyaa kan? Lalu Anda kepikiran untuk buka Google. Anda cari lah disitu kata kunci Cara Membuat Kue Donat. Setelah dapat, Anda pelajari resepnya dan ternyata Anda paham. Selanjutnya apa? Apa didiemin gitu aja ilmunya?

Tentu untuk membuktikan sejauh mana kita sudah menguasai ilmu resep tadi, kita mesti coba praktek dulu. Kita test kemampuan kita. Setelahnya kita bisa nilai, rasanya enak atau gak. Kalau enak berarti kita berhasil. Berikutnya setiap mau buat kue kita udah gak bingung lagi. Itulah buktinya kalau kita udah benar-benar nguasain ilmu cara membuat kue.

Coba, bayangin ilustrasi itu pada situasi saat Anda belajar di sekolah? Sudah samakah?

Apakah akhirnya Anda benar-benar bisa menguasai ilmu yang sudah di ajarkan di kelas selama berminggu-minggu atau mungkin selama bertahun-tahun?

Kalau belum, berarti ada yang salah dengan cara belajar Anda!
Atau mungkin sebenarnya Anda sama sekali bukan mencari ilmu. Tapi hanya sebatas mengincar nilai.

Lantas, kenapa Anda harus sekolah? ^_^

6 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *